GANJAR PRANOWO WAJIBKAN TIAP PERANGKAT DAERAH
PUNYA MEDSOS
Tiap kepala
daerah punya pendekatan berbeda dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Seperti yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, yang memilih
untuk mengubah mindset para aparatur sipil negara (ASN) atau PNS di Jawa Tengah
agar dapat melayani masyarakat dengan baik.
"Tantangan
pertama ini adalah mengubah mindset untuk melayani masyarakat dengan baik.
Sekarang itu ekspektasi publik jauh meningkat. Maka seluruh ekspektasi itu kita
dorong agar ASN punya ide-ide untuk merespons ekspektasi publik ini,"
jelas Ganjar dalam keterangan resmi Kementerian PANRB, Selasa (13/12/2022).
Ganjar juga
menyampaikan, salah satu pendekatan yang digunakan untuk perbaikan pelayanan
publik di Jawa Tengah adalah dengan mewajibkan setiap Organisasi Perangkat
Daerah (OPD) untuk memiliki media sosial (medsos). Hal ini dilakukan untuk
menjaring komplain dari masyarakat dengan lebih mudah dan lebih cepat.
Apa yang
dilakukan tersebut ternyata mampu mendorong PNS untuk dapat mengubah diri untuk
memberikan pelayanan terbaik dan kemudian melakukan inovasi dalam proses
pelayanan publik.
Ini juga
terlihat dari jumlah Mal Pelayanan Publik (MPP) yang telah dihadir di wilayah
Jawa Tengah. Sebanyak 21 dari 35 kabupaten dan kota atau sebesar 60 persen
telah memiliki MPP.
"Mengubah
mindset ini sulit, tapi bisa kita dorong. Dengan adanya masukan dan komplain
dari masyarakat, maka pelayanan publik di Jawa Tengah dapat terus berbenah
untuk meningkatkan kualitasnya dalam melayani masyarakat," imbuh Gubernur
Jawa Tengah sejak 2013 ini.
Topografi Beragam
Berbeda
daerah, berbeda pula pendekatannya. Seperti yang dilakukan oleh Bupati Tanjung
Jabung Barat Anwar Sadat beserta jajarannya. Paham akan daerahnya memiliki
tantangan topografi yang beragam, membuat Anwar memikirkan bagaimana agar
masyarakat di Tanjung Jabung Barat mendapatkan pelayanan yang baik, murah, dan
cepat.
Berkoordinasi
dengan seluruh OPD menjadi langkah awal yang diambil untuk menghadirkan
pelayanan publik yang prima. Tantangan topografi kemudian diselesaikan dengan
pembangunan infrastruktur, dilanjutkan dengan membangun desa-desa yang masih
blank spot dan membangun jaringan listrik.
Tantangan di
daerahnya itu ia jawab dengan mendirikan MPP yang diresmikan secara serentak
oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB),
Abdullah Azwar Anas.
"Dengan
demikian, akses masyarakat menjadi jauh lebih mudah untuk mendapatkan
pelayanan, khususnya di MPP yang telah berdiri sejak 2019 ini. Hadirnya MPP
dengan 156 jenis pelayanan dari 20 instansi menjadi salah satu misi kami untuk
melakukan pelayanan publik prima yang murah dan cepat," jelasnya.
Pemahaman
yang Sama
Tantangan
lain juga dihadapi oleh Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko saat ingin menghadirkan
MPP di wilayahnya. Dewanti menyampaikan bahwa kepala daerah memiliki peran
penting dalam mewujudkan MPP.
Pada
awalnya, OPD di Kota Batu belum memiliki pemahaman yang sama akan perlunya MPP.
Hal ini memerlukan komitmen kuat dari kepala daerah untuk memberikan
sosialisasi agar jajarannya paham akan pentingnya MPP.
“Komitmen
dari kepala daerah untuk dapat menyampaikan kepada seluruh jajarannya bahwa MPP
itu sebuah keniscayaan yang sangat penting agar pemerintah bisa memberikan
pelayanan yang lebih baik. Kemudian diikuti dengan pembuatan regulasi untuk
membangun MPP,” ungkap Dewanti.
Dewanti
berharap keberadaan MPP bisa menjadi fasilitas yang lebih baik untuk
menghadirkan pelayanan yang lebih cepat, efektif, dan efisien kepada
masyarakat.
Berdirinya
MPP juga akan membuat kerja pemerintah lebih efektif dan efisien dalam melayani
warga Kota Batu. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan PAD Kota Batu melalui
peningkatan investasi sesuai salah satu program reformasi birokrasi tematik.
“Semoga MPP
ini terus dijaga keberadaannya dan dapat terus ditingkatkan kualitasnya untuk
bisa melayani masyarakat Kota Wisata Batu,” pungkasnya.
0 Komentar